There’s a reason why i repost-ed this post
Ini bisa jadi postingan paling sampah yang pernah saya tulis di tumblr ini. Jika ada komentar, rasa marah, bingung, maupun terkejut. Silahkan disimpan di dalam hati masing-masing.
Nggak tau kenapa, beberapa malam terakhir ini saya selalu kepikiran sama orang yang dulu, di waktu saya sma, benar-benar saya benci. Yang menurut saya benar-benar membuat saya sakit hati karena perilaku dan tingkahnya. Apakah ia memang seperti yang saya pikirkan atau tidak, saya tidak tau. Dan ketika itu, saya benar-benar tidak mau tau dengan segala yang ia lakukan. Terlalu benci, mungkin.
Pembicaraan dan komunikasi yang begitu saja terputus begitu kami lulus dari SMA, saya di jakarta dan dia di semarang. Dengan ending yang benar-benar tidak bagus untuk dijadikan sebuah kisah cinta, bahkan kisah persahabatanpun sepertinya juga tak mungkin layak. Ya, saya akui hingga detik ini saya masih berapi-api ketika terlintas sedikit pikiran tentang dia—menyebut namanyapun saya enggan. Dan tanpa bermaksud menjilat ludah sendiri, saya juga nggak mengerti, saya kepikiran dia. Saya ingin ketemu sama dia. Bodoh sekali. Tolol. Dengan pembicaraan terakhir kami di sebuah messenger, kata-kata yang benar-benar tidak layak untuk dikeluarkan. Dan berakhir dengan sebaris kalimat dari dia yang mengakhiri segala komunikasi kami hampir 2 tahun lamanya, “oke, cukup tau nin kalo lo orangnya seperti ini, bye.”
Saya tau diri kalo saya nggak pantas bilang saya kangen sama dia, saya pengen ngobrol sama dia. Meskipun cuma sekedar say hai. Just fyi, nada bicara saya masih meninggi ketika saya mengungkapkan hal ini ke teman saya. Saya sadar ini juga cukup tolol ketika saya bilang bahwa saya ingin pergi ke semarang. Cuma untuk melihat bagaimana ia sekarang.
Hai, Farid. Ini pertama kalinya lagi saya menulis nama anda setelah sekian lamanya. Saya kangen sama anda. Tepatnya, saya mau ngobrol sama anda. Saya tau ini sampah banget. Kangen dengan seseorang yang sempat saya bilang benci setengah mati, enggan menyebut bahkan mendengar namanya disebut, dan berusaha setengah mati melupakan wajahnya dari pikiran saya. Saya juga tau, rid. Saya nggak mungkin begitu saja ngajak kamu ngobrol, invite bbm kamu atau memfollow kamu di twitter. Karena semua ini akan jadi pertanyaan.
Pertanyaan bagi saya. Mengapa saya bisa begitu saja kangen, tapi masih kesal dengan kamu.
Pertanyaan bagi kamu, yang saya maki-maki dengan sepenuh hati. Dengan kata-kata yang benar-benar tidak pantas untuk didengar.
Pertanyaan bagi mereka yang tau seberapa bencinya saya kepada kamu. Mengapa saya bisa berubah pikiran untuk menemui kamu.
Oke farid, jujur aja, saya belum bisa ngelupain kamu.
If happy ever after did existPayphone - Maroon 5 & Wiz Khalifa
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of shit
One more fucking love song I’ll be sick